Magang 1 tugas 8

 LAPORAN BACAAN

NURSYIFA

11901028

PAI 4D

Judul : strategi pembelajaran

Sumber:

http://eprints.umsida.ac.id/1610/1/jurnal%20Nds%20dan%20toy%20Fiks.pdf

STRATEGI PEMBELAJARAN

Penulis: Dr. Wahyudin Nur Nasution, M.Ag.Editor: Drs. Asrul Daulay, M.Si



A. Pengertian Strategi Pembelajaran

Stratrategi berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘strategia’ yang berarti seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. (Al Muchtar, dkk., 2007: 1.2) Secara umum strategi adalah alat, rencana, atau metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu tugas (Beckman, 2004: 1). Dalam konteks pembelajaran, strategi berkaitan dengan pendekatan dalam penyampaian materi pada lingkungan pembelajaran. Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, lingkungan sekitar dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Strategi pembelajaran terdiri dari metode, teknik, dan prosedur yang akan menjamin bahwa peserta didik akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran. Kata metode dan teknik sering digunakan secara bergantian (Al Muchtar, dkk., 2007: 1.3). Untuk itu, strategi pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditentukan agar diperoleh langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien (Gerlach dan Ely, 1971: 207).

Menurut Miarso (2005), strategi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh  pembelajaran dalam suatu sistem pembelajaran, yang berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan falsafah dan atau teori belajar tertentu. Seels dan Richey (1994: 31) menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan rincian dari seleksi pengurutan peristiwa dan kegiatan dalam pembelajaran, yang terdiri dari metode-metode, teknikteknik maupun prosedur-prosedur yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan. Kauchak dan Eggen (1993: 12) mengartikan strategi pembelajaran sebagai seperangkat kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Romiszowsky (1981) strategi dalam konteks kegiatan pembelajaran mengandung makna, yaitu untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar dengan memilih metode-metode yang dapat mengembangkan kegiatan belajar peserta didik secara lebih aktif. Pendapat yang hampir sama dikemukakan Dick dan Carey (1978: 106) yang mengatakan strategi belajar mengajar mencakup keseluruhan komponen pembelajaran yang bertujuan menciptakan suatu bentuk pembelajaran dengan kondisi tertentu agar dapat membantu proses belajar peserta didik. Sedangkan Semiawan (1996) berpendapat ditinjau dari segi proses pembelajaran strategi belajar mengajar merupakan proses bimbingan terhadap peserta didik dengan menciptakan kondisi belajar murid secara lebih aktif.

Setiap strategi pembelajaran yang dikembangkan, menurut Romiszowsky (1981:294) harus selalu mencerminkan posisi teoretis yang merujuk pada bagaimana seharusnya pembelajaran itu dilaksanakan. Karena itu, Hamalik (1993:2) mendefinisikan strategi belajar mengajar sebagai suatu sistem yang menyeluruh yang terdiri dari sejumlah komponen, yakni komponen masukan (in put), komponen proses  (process), dan komponen produk (out put). Salusu (1996:101) berpandangan strategi merupakan suatu seni menggunakan kecakapan dan sumber daya untuk mencapai sasarannya melalui hubungan yang efektif dengan lingkungan dan kondisi yang lebih menguntungkan.

Dari batasan-batasan itu, dapat dipahami bahwa strategi pembelajaran merupakan pendekatan menyeluruh pembelajaran dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan secara efektif dan efisien.

Sebagai suatu pola aktivitas pendidik – peserta didik, strategi pembelajaran memuat sejumlah komponen yang membentuk jalinan keterkaitan dalam wadah yang disebut dengan pola pembelajaran. Dick dan Carey (1996: 183) memandang strategi pembelajaran sebagai penjelasan tentang komponenkomponen umum dari separangkat materi pembelajaran dan prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan itu, untuk menghasilkan suatu hasil belajar tertentu pada peserta didik.

Menurut Suparman (1997: 157) strategi pembelajaran merupakan perpaduan urutan kegiatan pembelajaran (tahap-tahap yang perlu dilalui/

 

diikuti dalam penyajian materi pembelajaran) metode atau teknik pembelajaran ( prosedur teknis pengorganisasian bahan dan pengelolaan peserta didik dalam proses pembelajaran),  media pembelajaran (peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan sebagai media proses pembelajaran), dan waktu pembelajaran (waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan pembelajaran).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah keseluruhan pola umum kegiatan pendidik dan peserta didik dalam mewujudkan peristiwa pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan, secara efektif dan efisien terbentuk oleh paduan antara urutan kegiatan, metode dan media pembelajaran yang digunakan, serta waktu yang digunakan pendidik dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

B. Komponen-Komponen Strategi Pembelajaran

Dick dan Carey (1996: 184) menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran pendahuluan, penyampaian informasi, partisipasi peserta didik, tes dan kegiatan lanjutan.

Pertama, kegiatan pembelajaran pendahuluan. Kegiatan pembelajaran pendahuluan memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Pada kegiatan ini pendidik diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi pelajaran yang akan disampaikan. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan dapat memotivasi peserta didik untuk belajar. Sebagaimana iklan yang berbunyi: “Kesan pertama begitu menggoda…. selanjutnya terserah anda…”, maka demikian pula dengan peserta didik yang dihadapi pendidik (guru). Cara guru mempekenalkan materi pelajaran melalui contoh-contoh ilustrasi tentang kehidupan sehari-hari atau cara guru menyakinkan apa manfaat mempelajari pokok bahasan tertentu akan sangat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik (Nurani, dkk., 2003: 1.9).

Kegiatan pembelajaran pendahuluan dapat dilakukan melalui teknikteknik berikut ini.

1. Menjelaskan tujuan pembelajaran yang diharapkan akan dapat dicapaioleh semua peserta didik diakhir kegiatan pembelajaran. Melalui kegiatan ini, peserta didik akan mengetahui apa yang harus diingat, dipecahkan, dan diinterpretasi. Di samping itu, peserta didik terbantu untuk memusatkan strategi belajar kearah hasil pembelajaran (Al Muchtar, 2007: 2.6).

Untuk itu, pendidik hendaknya dalam menyampaikan tujuan pembelajaran menggunakan kata-kata dan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik. Pada umumnya, penjelasan dengan menggunakan ilustrasi kasus yang sering dialami oleh peserta didik dalam kehidupan seharihari. Sedangkan bagi peserta didik yang lebih dewasa dapat dibacakan sesuai dengan rumusan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Nurani, dkk., 2003: 1.9);

2. Lakukan appersepsi, berupa kegiatan yang menghubungkan antarapengetahuan lama dan pengetahuan baru yang akan dipelajari. Tunjukkan pada peserta didik tentang eratnya hubungan antara pengetahuan yang telah mereka miliki dengan pengetahuan yang akan dipelajari. Kegiatan ini dapat menimbulkan rasa mampu dan percaya diri sehingga mereka terhindar dari rasa cemas dan takut menemui kesulitan dan kegagalan (Nurani, dkk., 2003: 1.9-1.10).

Kedua, penyampaian informasi. Dalam kegiatan ini pendidik akan menetapkan secara pasti informasi, konsep, aturan, dan prinsip-prinsip apa yang perlu disajikan kepada peserta didik. Di sinilah penjelasan pokok tentang semua materi pembelajaran. Kesalahan utama yang sering terjadi pada tahap ini adalah menyajikan informasi terlalu banyak, terutama jika sebagian besar informasi itu tidak relevan dengan tujuan pembelajaran (Al Muchtar, dkk, 2007: 2.7). Di samping itu, pendidik harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi, yaitu urutan, ruang lingkup, dan jenis materi.

1. Urutan penyampaian. Urutan penyampaian materi pelajaran harusmenggunakan pola yang tepat. Urutan materi diberikan berdasarkan tahapan berpikir dari hal-hal yang bersifat kongkret ke hal-hal yang bersifat abstrak atau dari hal-hal yang sederhana atau mudah dilakukan ke hal-hal yang lebih kompleks atau sulit dilakukan. Selain itu, perlu juga diperhatikan apakah suatu materi harus disampaikan secara berurutan atau boleh melompat-lompat atau dibolak balik, seperti misalnya dari teori ke praktik atau dari praktik ke teori. Urutan penyampaian informasi yang sistematis akan memudahkan peserta didik cepat memahami apa yang ingin disampaikan oleh pendidiknya (Nurani, dkk., 2003: 1.9-1.10);

2. Ruang lingkup materi yang disampaikan. Besar kecilnya materi yangdisampaikan atau ruang lingkup materi sangat bergantung pada karakteristik peserta didik dan jenis materi yang dipelajari. Umumnya ruang lingkup materi sudah tergambar pada saat menentukan tujuan pembelajaran. Apabila tujuan pembelajaran berisi muatan tentang fakta maka ruang lingkupnya lebih kecil dibandingkan dengan tujuan pembelajaran yang berisi muatan tentang suatu prosedur. Yang perlu diperhatikan pendidik dalam memperkirakan besar kecilnya materi adalah penerapan teori Gestalt. Teori tersebut menyebutkan bagianbagian kecil merupakan satu kesatuan yang bermakna apabila dipelajari secara keseluruhan dan keseluruhan tidaklah berarti tanpa bagianbagian kecil tadi. Atas dasar teori tersebut perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut.

a. Apakah materi akan disampaikan dalam bentuk bagian-bagiankecil seperti dalam pembelajaran terprogram;

b. Apakah materi akan disampaikan secara global/keseluruhan dulubaru ke bagian-bagian. Keseluruhan dijelaskan melalui pembahasan isi buku, dan selanjutnya bagian-bagian dijelaskan melalui uraian bab per bab  (Nurani, dkk., 2003:1.10).

3. Materi yang akan disampaikan. Materi pelajaran umumnya merupakangabungan antara jenis materi berbentuk pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan, dan syarat-syarat tertentu), dan sikap (berisi pendapat, ide, saran, atau tanggapan) (Kemp, 1977). Merill (1977: 37) membedakan isi pelajaran menjadi empat jenis, yaitu fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Dalam isi pelajaran ini terlihat masing-masing jenis pelajaran sudah pasti memerlukan strategi penyampaian yang berbeda-beda. Karena itu, dalam menentukan strategi pembelajaran pendidik harus terlebih dahulu memahami jenis materi pelajaran yang akan disampaikan agar diperoleh strategi pembelajaran yang sesuai. Contoh: 1) apabila peserta didik diminta untuk mengingat nama suatu objek, simbol atau peristiwa berarti materi tersebut berbentuk fakta, sehingga alternatif strategi penyampaiannya adalah dalam bentuk ceramah dan tanya jawab; 2)

Apabila peserta didik diminta menyebutkan suatu definisi atau menulis ciri khas dari sesuatu benda berarti materi tersebut berbentuk konsep, sehingga alterntif strategi penyampaiannya dalam bentuk resitasi atau penugasan atau diskusi kelompok; 3) apabila peserta didik diminta untuk menghubungkan antara beberapa konsep atau menerangkan keadaan atau hasil hubungan antara beberapa konsep, berarti materi tersebut berbentuk prinsip, sehingga alternatif strategi penyampaiannya adalah berbentuk diskusi terpimpin dan studi kasus.

Ketiga, partisipasi peserta didik. Partisipasi peserta didik sangat penting dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan  (Nurani, dkk., 2003: 1.11). Terdapat beberapa hal penting yang terkait dengan partisipasi peserta didik.

a. Latihan dan praktik seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang suatu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Agar materi tersebut benar-benar terinternalisasi (relatif mantap dan menetap dalam diri mereka) maka kegiatan selanjutnya adalah hendaknya peserta didik diberi kesempatan untuk berlatih atau mempraktikkan pengetahuan, sikap, keterampilan tersebut;

b. Umpan balik. Segera setelah peserta didik menunjukkan perilaku tertentu sebagai hasil belajarnya, maka pendidik memberikan umpan balik terhadap hasil belajar tersebut. Melalui umpan balik yang diberikan oleh pendidik, peserta didik akan segera mengetahui apakah jawaban yang merupakan kegiatan yang telah mereka lakukan itu benar/salah, tepat/tidak tepat atau ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Umpan balik dapat berupa penguatan positif dan penguatan negatif. Melalui penguatan positif (baik, bagus, tepat sekali, dan sebagainya), diharapkan perilaku tersebut akan terus dipelihara atau ditunjukkan oleh peserta didik. Sebaliknya melalui penguatan negatif (kurang tepat, salah, perlu disempurnakan dan sebagainya), diharapkan perilaku tersebut akan dihilangkan oleh peserta didik (Nurani, dkk, 2003: 1.11)

Keempat, tes. Ada dua jenis tes atau penilaian yang biasa dilakukan oleh kebanyakan pendidik, yaitu pretest dan posttest (Al Muchtar, 2007: 2.8). Secara umum tes digunakan oleh pendidik untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum dan apakah pengetahuan, keterampilan dan sikap telah benar-benar dimiliki peserta didik atau belum. Pelaksanaan tes biasanya dilaksanakan diakhir kegiatan pembelajaran setelah peserta didik melalui berbagai proses pembelajaran, yaitu penjelasan tujuan diawal kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi berupa materi pembelajaran. Di samping itu, pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta didik melakukan latihan atau praktik (Nurani, dkk., 2003: 1.12).

Kelima, kegiatan lanjutan. Kegiatan lanjutan atau  follow up, secara prinsip ada hubungannya dengan hasil tes yang telah dilakukan. Karena kegiatan lanjutan esensinya adalah untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik (Winaputra, 2001: 3.43). Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik antara lain adalah sebagai berikut.

1. Memberikan tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah;

2. Menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik;

3. Membaca materi pelajaran tertentu;

4. Memberikan motivasi dan bimbingan belajar.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAGANG 1 TUGAS 2

MAGANG 1 TUGAS 6

MAGANG 1 TUGAS 9